Ronaldinho, Pahlawan yang Jadi Pecundang

SIAPA pun tidak menyangkal kehebatan Ronaldo de Assis Moreira atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ronaldinho Gaucho alias Ronaldinho. Selama dua musim sejak 2004/05, penampilannya begitu mengundang decak kagum para pengamat dan penikmat sepak bola di seluruh dunia. Ia pula yang mengembalikan kejayaan Barcelona ke puncak prestasi liga Divisi Primera Spanyol dan Eropa. Namun, hanya di situ ia dapat “berbicara” di lapangan hijau karena sekarang, dua tahun kemudian, Dinho sama sekali tak mampu mengembalikan namanya sejajar dengan pesepak bola legendaris asli Brasil.

Penggemar sepak bola, khususnya El Barca, pasti masih ingat dengan kedatangan Dinho dari Paris Saint-Germain ke Camp Nou pada 2003. Waktu itu gelandang serang tersebut baru berusia 23 tahun dan namanya dikait-kaitkan dengan kehebatan sang senior, Ronaldo (kini 31 tahun), sehingga julukan “Ronaldo Kecil” pun sempat melekat padanya.

Benar saja, baru semusim bermain di klub asal Catalonia itu, Dinho berhasil memikat El Cules. Meski gagal meraih gelar tertinggi di La Liga, Dinho sukses mengantar Blaugrana menjadi runner-up Liga Primera. Ini adalah posisi terbaik yang belum pernah dicapai Barca selama empat tahun sebelumnya.

Satu musim berikutnya, 2004/05, Dinho benar-benar membawa sukses bagi Azulgrana. Barca menjadi juara liga setelah enam tahun tak mencicipi rasa menjadi yang terbaik di Spanyol. Insting, dribel, serta kemampuan Dinho melewati pemain lawan seolah menyihir setiap mata yang memandangnya. Gocekan maut plus tendangannya yang akurat selalu menjadi harapan suporter saat Barcelona berada dalam tekanan untuk menang. Pantas jika akhirnya FIFA memberikan ganjaran gelar Pemain Terbaik 2004 kepadanya.

Permainannya memuncak setahun kemudian. Kali ini Gaucho tidak hanya mempertahankan gelar La Liga bagi El Barca, tapi juga memberikan gelar terbaik Eropa: juara Liga Champions 2006. Pada musim ini, ia selalu dikenang dengan dua golnya ke gawang Iker Casillas dan mengantar Barca menang telak 3-0 di Santiago Bernabeu. Gol itu mencerminkan kualitas individunya yang luar biasa lewat tarian “Samba” yang ia terjemahkan dengan baik di lapangan.

Ketika mengalahkan Chelsea di fase pertama babak 16 besar Liga Champions, ia kembali mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Ia mempermalukan bek tengah sekaligus kapten The Blues, John Terry, dengan sebuah gocekan indah yang mengelabui Terry dan menaklukkan kiper Petr Cech.

Bagi Barcelona, itulah gelar terbaik keduanya di Eropa setelah yang pertama pada 1992. Dinho sendiri begitu bangga dengan gelar pertamanya itu. Ia semakin gembira setelah FIFA kembali mendaulatnya sebagai Pemain Terbaik 2005. Gelar kedua berturut-turut ini sama seperti yang dilakukan Ronaldo pada 1996 dan 1997. Di tahun ini, Dinho juga meraih trofi Ballon d’Or sebagai pemain terbaik di Eropa.

Menurun
Sayangnya, hanya sampai di situ kehebatan pemain berambut keriwil tersebut. Seolah terbuai dengan segala puja-puji para penggemarnya, Ronaldinho tampil buruk di kejuaraan selanjutnya.

Perannya sama sekali tak berpengaruh terhadap ketangguhan Brasil di Piala Dunia 2006. A Selecao tak berdaya melawan kedigdayaan juara dunia 1998, Prancis, di babak perempat final.

Di kancah liga, Dinho tak mampu membuat timnya mempertahankan gelar La Liga 2006/07. Ia memang masih memperlihatkan kemampuannya mencetak gol dengan teknik menarik seperti ketika mencetak gol kedua dengan “bicyle kick” lawan Villarreal di lanjutan La Liga, November 2006. Namun, serangkaian cedera plus penampilan yang mulai menurun memaksanya tersingkir dari skuad utama susunan pelatih Frank Rijkaard.

Penampilan buruk itu berlanjut hingga musim 2007/08, musim lalu. Ia tidak hanya kehilangan prioritas utama di tim, tapi juga menghilangkan kepercayaan dari Rijkaard. Kebiasaannya berfoya-foya hingga larut malam, bahkan subuh, menumbuhkan kebencian pada diri sang pelatih dan juga klub. Kegemarannya menenggak minuman dan mendatangkan perempuan penghibur dalam pesta-pesta dugem membuatnya rela menghabiskan uang miliaran rupiah dalam semalam.

Akibatnya, Dinho sering mangkir dalam sesi latihan keesokan harinya dan Rijkaard tak mau berkompromi dengan ulahnya itu. Sejumlah alasan dilontarkan oleh Rijkaard untuk menyingkirkan Dinho dari timnya. Yang paling sering dikatakannya kepada media adalah Ronaldinho cedera meski tak pernah ada penjelasan cedera seperti apa yang dialami pemain berusia 28 itu.

Ronaldinho makin tidak konsisten menjaga fisiknya setelah pekan lalu fotografer memperlihatkan foto-fotonya yang menunjukkan perut Dinho yang semakin gendut. Ini merupakan bukti bahwa Dinho belum berubah, atau mungkin tak mau berubah. Ia tak ubahnya Ronaldo dan Adriano Leite, dua bintang Brasil yang juga senang foya-foya dan main perempuan.

Kini Dinho tak lagi bermain di Barcelona dan akan merintis kembali kesuksesannya bersama AC Milan. Dinho pindah ke San Siro dengan harga “hanya” sebesar 21 juta euro atau Rp307 miliar, jauh lebih murah dibandingkan tawaran Manchester City maupun LA Galaxy kepada Barca.

Semoga, di Milan, ia tidak lupa cara bermain sepak bola yang benar setelah sekian lama tak bermain. Semoga pula ia tak menampik anggapan bahwa anak alim pun bisa sesukses Kaka, sesama bintang AC Milan asal Brasil yang menjadi Pemain Terbaik FIFA tahun lalu. Yang terakhir, semoga ia tidak menjadi pecundang setelah menjadi pahlawan yang diagung-agungkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: